Direktur Utama PT PLN (Persero) Suroso Isnandar menyatakan PLN mendukung penuh pemenuhan kebutuhan listrik pusat data (data center) di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026.
Dua tahap
Tahap pertama, PLN melayani pusat data dengan infrastruktur yang sudah ada. Tahap berikutnya, infrastruktur baru dibangun bersama, termasuk pembangkit, transmisi, dan distribusi. Suroso juga menyebut perlunya tarif business-to-business non-subsidi bagi pusat data agar biayanya tidak membebani subsidi.
Angka kapasitas
Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLN harus menambah 69,5 gigawatt (GW) kapasitas pembangkit dalam 10 tahun untuk transisi energi, di luar kebutuhan pusat data. Suroso menyebut kebutuhan listrik pusat data mencapai 20 GW.
Pada forum yang sama, Menko Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengusulkan Batam, Karimun, dan Bintan sebagai pusat data baru. Ia mengingatkan pusat data membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar sehingga perlu perencanaan matang agar tidak menekan sumber daya setempat.
Sumber: ANTARA, 27 Oktober 2026.