Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Niño berada pada intensitas "sangat kuat". Dalam konferensi pers prediksi musim hujan pada 22 September 2026, BMKG menyebut anomali suhu muka laut Niño 3,4 sebesar +2,83 pada akhir Agustus. Bersama Indian Ocean Dipole (IOD), kondisi itu memperparah dan memperpanjang kekeringan sehingga musim hujan datang terlambat dan lebih singkat.
Sebaran
Sebanyak 529 zona musim (ZOM), atau 61,08 persen luas daratan Indonesia, diperkirakan mengalami musim hujan yang lebih lambat dari rata-rata klimatologisnya. Sebanyak 11 ZOM (1,12 persen) lebih awal dan 26 ZOM (2,15 persen) sama dengan normal. Musim hujan masuk bertahap mulai November dan Desember 2026, dengan puncak pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Durasinya lebih pendek dari normal di 482 ZOM (51,90 persen).
Kondisi saat ini
Saat pengumuman, 556 ZOM (61,91 persen luas daratan) masih berada di musim kemarau. Hari tanpa hujan melebihi 60 hari di banyak titik pengamatan di 25 provinsi, dengan yang terpanjang 131 hari di Bantul.
Imbauan
BMKG meminta masyarakat waspada kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan pada September–Oktober, serta menyiapkan drainase dan kesiapan evakuasi untuk banjir dan longsor saat awal dan puncak musim hujan.
Sumber: siaran pers BMKG, 22 September 2026.